Minggu, 05 Agustus 2012

Tidak Bawa Handphone, Pernah Dirampok di Australia


sudah sejak Mei 2009, Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori meninggalkan Italia untuk kelling puluhan negara di dunia. Pasutri tersebut kemarin singgah di Malang sebelum menuju kota-kota lain di Indonesia. Bagaimana kisahnya? 

Irham Thoriq

Sepeda motor berpelat nomor Italia AF 8369 sedang parkir di halaman rumah Gembong Priyosetyadji, Jalan Bondowoso Dalam No 15 Kota Malang. Tampak kalau sepeda motor ber-cc 600 itu dipergunakan untuk perjalanan jauh. Soalnya, di depan kanan sepeda motor itu, ada jeriken lima liter yang berisi air. Di kiri ada jeriken yang ukurannya lebih kecil berisi oli sebagai persiapan kehabisan oli di tengah jalan.
Pemandangan lain bahwa sepeda motor ini untuk tunggangan perjalanan jauh adalah banyaknya perlengkapan yang dimuat di atasnya. Ada tenda, matras, baju, laptop, dan perlengkapan kecil lainnya. Di bagian belakang sepeda motor tersebut, terdapat stiker 23 negara. Itulah 23 negara yang sudah dikunjungi pasangan suami istri (pasutri) Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori.
Kemarin pasutri asal Italia tersebut singgah di Malang. Di kota ini, keduanya tinggal di rumah Gembong Priyosetyadji di Jalan Bondowoso Dalam 15. Pasutri itu mengenal Gembong dalam jambore all bikers se-Indonesia di Jember 19 Mei lalu. Gembong sendiri adalah ketua Asosiasi Honda Phantom Indonesia (AHPI) Kota Malang.   
Mauriz dan Shizo –begitulah panggilan pasutri itu– sudah tiga tahun atau sejak 18 Mei 2009 melakukan perjalanan ”gila” keliling 23 negara dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan mereka diawali dari Italia.
Meski tampak lelah karena habis sakit, Mauriz bersemangat menceritakan perjalanannya keliling 23 negara. Ke-23 negara yang telah dilewati  tersebut adalah Italia, Prancis, Spanyol, Swiss, Austria, Bosnia, Portugal, Kosovo, Serbia, Makedonia, Montenegro, Bulgaria, Belanda, Turki, Armenia, Georgia, Iran, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Australia, Timur Leste, dan Indonesia.
Dan, Indonesia bukan negara terakhir dalam perjalanan keduanya. Mereka masih akan melanjutkan perjalanan ke beberapa negara Asia lainnya serta Eropa sekalian pulang ke Italia. Berapa negara lagi yang akan disinggahi, Mauriz dan Shizo belum punya target. ”Kalau ingin singgah, ya kami singgah,” ucap Mauriz. 
Awalnya, pasutri tersebut memang tidak punya cita-cita untuk berkeliling dunia dengan sepeda motor. Mauriz yang memang hobi backpacker hanya iseng mengajak istrinya untuk melakukan perjalanan ”gila” tersebut. Secara mengejutkan, Shizo mengiyakan ajakan Mauriz tersebut. ”Saya ajak istri saya. Dia mau. Terus kami berangkat,” ujanya dalam bahasa Inggris.
Mauriz dengan Shizo sebenarnya beda negara. Mauriz asal Italia dan Shizo dari Jepang. Pada 2006 lalu, keduanya bertemu dalam perjalanan backpacker. Saat itu Mauriz menempuh jalan kaki seribu kilometer dari Prancis ke Spanyol. Di tengah jalan, keduanya berkenalan. Tidak lama berselang, duda dan janda itu menikah. ”Karena saya suka jalan-jalan, bertemu istri pun di jalanan,” ungkap pria kelahiran 11 Juni 1962 tersebut, lantas tertawa.
Menurut Mauriz, dirinya leluasa melakukan perjalanan jauh karena tidak ada orang lagi di rumah. Anak perempuan satu-satunya yang bernama Maika dari istri pertamanya sudah bekerja di Mesir.
Bahkan, Mauriz memberikan semua perabotan rumahnya kepada panti asuhan. Dengan berderma, dia berharap perjalanannya selamat. ”Kami kasihkan semua perabotan rumah kecuali Vespa karena saya suka sekali Vespa itu,” tutur dia.
Keduanya berangkat dengan bekal USD 20 ribu. Namun, bekal tersebut sudah ludes ketika perjalanan baru sampai Swiss atau negara ke-12 yang disinggahi. ”Selama dua puluh hari kami kerja di Turki. Kerja apa saja asalkan dapat uang,” kata Mauriz.
Bukan hanya di Turki. Ketika sampai di Iran dan Australia pun, mereka harus bekerja untuk bekal uang telah habis. Di dua negara tersebut, Mauriz berkerja sebagai mekanik, sopir, dan kerja serabutan lainnya. ”Di Italia, saya dulu punya bengkel,” ujarnya.
Sedangkan Shizo juga bekerja sebagai pembuat suvenir di dua negara tersebut. ”Saya ikut kerja karena uang kami benar-benar habis,” ucap perempuan kelahiran Jepang 20 April 1967 itu.
Menariknya, meskipun mengelilingi berbagai negara, keduanya tidak membawa handphone dan kompas sebagai penunjuk arah. ”Modal kami hanya mulut untuk bertanya ke orang lain. Namun, kalau mereka tidak mengerti bahasa Inggris, kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh,” imbuh Shizo.
Hal  itu misalnya dialami ketika hendak mdlakukan perjalanan ke Gunung Bromo. Ketika bertanya kepada salah seorang warga, orang itu tak bisa bahasa Inggris tapi paham yang dimaksud Mauriz. Makanya, warga tersebut langsung memberikan peta arah jalan ke Bromo. ”Ini petanya ketika saya dibuatkan salah seorang penduduk,” ujarnya sambil menunjukkan peta itu. 
Dalam perjalanan, keduanya juga membawa laptop dan dua kamera. Namun, satu kamera hilang di Australia karena dirampok orang. ”Kamera yang dirampok itu yang besar,” ungkap Mauriz.
Sedangkan laptop diperlukan keduanya untuk melakukan komunikasi dengan keluarga melalui media skype dan e-mail. Selain itu, mereka selalu menuliskan pengalaman dan mengunggah foto-foto dan video di website pribadinya, yakni www.andimoper.jimdo.com dan www.andimoper.blogspot.com.
Tulisan-tulisan dan foto itu sempat dijadikan buku oleh teman Mauriz di Italia. Yakni kisah perjalanan mulai Italia sampai Jepang. Buku berbahasa Italia dengan judul Due Rote Due Matti Una Tenda. Artinya Dua Roda, Dua Orang Gila, dan Satu Tenda. Jadi, tulisan-tulisan tentang perjalanan dari Italia ke Jepang dikirim via e-mail oleh Mauriz kepada temannya di Italia. Temannya itu yang kemudian menerbitkan dan menjual buku tersebut. ”Ternyata laris juga,” katanya bangga. ”Untuk perjalanan dari Jepang sampai Indonesia belum. Tunggu saja,” sambung pria murah senyum itu.
Buku tersebut banyak menggambarkan kisah mereka yang serimg tidur di tenda dalam perjalanan. Sangat jarang mereka tidur di hotel. ”Kalau tidak enak badan, baru tidur di hotel,” ucap Mauriz. 
Dari perjalanan menjelajahi negara-negara itu, keduanya banyak mempunyai kesan dan pelajaran hidup. Mauriz menceritakan, ketika di Korea Selatan, dia mendirikan tenda di dekat rumah warga yang sangat miskin dan hampir roboh. Namun, orang tersebut malah memberi mereka makan. ”Kami terharu karena orang miskin itu sangat pemurah,” tutur Shizo. 
Namun, tidak sepanjang perjalanan mereka menggunakan sepeda motor. Ketika melintasi lautan untuk menuju negara lain, mereka naik pesawat. Sedangkan sepeda motor dipaketkan melalui kargo.
Jumat lusa (8/6), mereka akan meninggalkan Kota Malang. keduanya bakal mengikuti Gembong dalam pertemuan Asosiasi Honda Phantom Indonesia di Kota Blitar. Setelah dari Blitar, keduanya melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. (yn) 
    

Minggu, 15 Juli 2012

Rela Jemput Atlet ke Rumah agar Semangat Latihan


Usia Anna Mairatna sudah 60 tahun. Namun, dia masih sibuk menjadi pelatih senam profesional maupun menjadi instruktur senam kesehatan. Apa yang membuatnya tetap aktif di senam?

Irham Thoriq 


Selasa (15/5) pagi sekitar pukul 08.30 tampak wajah Anna Mairatna masih berkeringat saat ditemui Radar di Taman Rekreasi Kota Malang (Tarekot). Perempuan yang sudah berumur 60 tahun ini baru selesai memimpin senam yang dilakukan PNS Pemkot Malang. ”Setiap Selasa saya memimpin senam di sini,” ucap perempuan kelahiran 16 Oktober 1952 itu.
Meskipun sudah 60 tahun, ibu dua anak tersebut belum tampak begitu tua. Mungkin karena dia aktif berolahraga tiap hari. Ya, Anna adalah ketua harian Persani (Persatuan Senam Seluruh Indonesia) Kota Malang sekaligus pelatih senam.
Anna termasuk salah satu pioner senam di Kota Malang. Ceritanya, pada 2002 lalu, dia yang masih menjadi PNS di Pemkot Malang diminta Ketua Harian KONI Kota Malang saat itu Bambang Dharmawan Suyono –mantan sekkota yang kini menduduki wakil ketua umum KONI Kota Malang–  untuk mendirikan Persani yang waktu itu belum ada. Anna yang aktif sebagai instruktur senam di pemkot langsung mengiyakan tawaran tersebut. Apalagi, dirinya ingin menghabiskan waktu tuanya menjadi pelatih senam. ”Saya dimintai tolong oleh Pak Bambang untuk membentuk Persani. Tidak pikir lama, saya langsung mengiyakan,” tutur alumnus Universitas Wisnuwardhana ini.
Namun, kendalanya, Anna merasa tidak mempunyai teman untuk mendirikan Persani. Dia lantas mencari kolega untuk dijadikan ketua umum. Waktu itu dia hanya ingin menjadi ketua harian. ”Saya lebih suka mengurusi hal teknis sambil menjadi pelatih senam,” ucapnya.
Saat itu Anna meminta Ketua DPRD Kota Malang Sri Rahayu –yang kini menjadi anggota DPR RI– untuk menjadi ketua umum Persani. ”Ibu Sri langsung setuju karena beliau juga suka senam,” tutur nenek satu cucu ini. 
Setelah melakukan banyak persiapan, tahun 2002 Persani Kota Malang berdiri. Sejak itu pula, Anna menjadi pelatih senam profesional di Persani yang merupakan cabang olahraga di bawah KONI Kota Malang. 
Meskipun telah berdiri, Persani waktu itu masih asing di telinga warga Kota Malang. Imbasnya, Persani masih kesulitan merekrut atlet. Sapai-sampai, Anna juga ikut turun langsung mencari atlet pontensial ”Waktu itu saya ke sekolah-sekolah dari SD sampai SMP se-Kota Malang untuk menyebar brosur perekrutan atlet. Lama-lama yang ikut lumayan,” kenang perempuan berkulit putih ini.
Selama sepuluh tahun menjadi pelatih senam profesional, Anna sangat mencintai profesinya itu. Namun, dia tidak melupakan senam kesehatan sehari-hari. Meskipun sudah tua, dia punya jadwal yang sangat padat. Hampir setiap hari dirinya melatih alet senam profesional Kota Malang untuk menghadapi kejuaraan. Selain itu, dia aktif sebagai instruktur senam di berbagai tempat seperti pemkot, Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia). Anna juga mendirikan sanggar senam di rumahnya.

Melatih di Banyak Tempat tanpa Bayaran



Maraknya hiburan pop membuat kesenian tradisional Jawa semakin terkikis. Apalagi, jarang orang yang mau melestarikan kesenian tradisional Jawa. Namun, Sujianto yang merupakan buruh pabrik sangat tekun menggeluti kesenian Jawa. Dia melatih seni Jawa tanpa bayaran.

Irham Thoriq

Suara gamelan dan gendang terdengar dari kejauhan saat Radar memasuki kawasan di dekat balai kelurahan Tanjungrejo, Sukun, Minggu (17/6) lalu. Di situ, ada tiga perempuan dan tiga pria yang rata-rata umurnya 50 tahun sedang memainkan alat kesenian tradisional Jawa. Salah satunya Sujianto. Dia tengah memainkan gamelan dan memberi pengarahan kepada penabuh alat lainnya.
Bermain kesenian tradisional Jawa merupakan latihan rutin yang dipimpin Sujianto setiap Minggu siang. Awalnya, latihan tersebut khusus untuk ibu-ibu PKK Tanjungrejo. Namun, karena minim yang datang, bapak-bapak yang lain membantu bermain musik tradisional tersebut. ”Setiap Minggu saya di sini, membantu melatih ibu-ibu,” ucap pria kelahiran 1 Januari 1951 itu.
Selain melatih ibu PKK tiap Minggu pagi, setiap Minggu malam di balai kelurahan, Sujianto juga melatih 16 bapak. Sedangkan Sabtu malam, dia melatih warga di dekat rumahnya, di Gang Putra Yudha VI Blok B No 12 Tanjungrejo, Sukun.
Sujianto memang memiliki beberapa keahlian terkait kesenian tradisional Jawa. Mulai bermain gamelan, jaran kepang, wayang orang, ludruk, sampai ketoprak.
Kegiatan tersebut dilakukan Sujianto karena kecintaannya terhadap kesenian tradisional Jawa yang telah dia geluti sejak kelas 5 SD pada 1965. Selain itu, kegiatan tersebut dilakukan guna mengisi waktu kekosongan akhir pekan Sujianto sebagai buruh pabrik kerupuk yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Bukan hanya kalangan bapak dan ibu yang dilatih oleh bapak dua anak itu. Sujianto juga menjadi pelatih di Sanggar Turonggo Langgeng Budoyo yang berada di dekat rumahnya. Di sanggar tersebut, Sujianto melatih tari Jawa bagi anak-anak yang rata-rata masih SMP.
Melalui sanggar tersebut, banyak prestasi yang telah didapatkan anak asuh Sujianto. Pada 2011 lalu, anak asuhnya menjadi juara dua dalam lomba tari Jawa se-Jawa Timur di lapangan Rampal Kota Malang. Pada 2010, dia pernah mengantarkan anak didiknya juara harapan satu lomba tari se-Jawa Timur yang diadakan di MOG Kota Malang. Pada tahun yang sama pula, anak didiknya meraih juara harapan dua tari Jaran Pegong di Hotel Aloha, Kota Malang.
Meskipun menjadi pelatih kesenian Jawa di berbagai tempat, Sujianto tidak pernah dibayar dan tidak mengharapkan bayaran. Bagi dia, menularkan kesenian Jawa yang sudah tidak digemari oleh masyarakat merupakan kepuasan batin tersendiri. ”Dalam seni itu, yang penting kepuasan, bukan bayaran. Kadang-kadang malah saya yang mengeluarkan uang untuk beli jajan ketika anak-anak berlatih,” tutur dia.
Sujianto juga merasa bangga karena anak didiknya di sanggar, yakni Siti Zulaikha dan Sriwahyuni, yang dulu merupakan pengamen jalanan beberapa kali beprestasi dalam bidang tari. Keduanya juga berhenti mengamen dan menekuni tari-tarian.
Meskipun hanya menjadi buruh pabrik yang gajinya Rp 25 ribu sehari, Sujianto rela menyisihkan bayarannya itu untuk membeli perlengkapan di sanggar. Hal itu dia lakukan karena perlengkapan di sanggar tempat dia melatih kurang. ”Ini saya yang beli. Namanya badong. Untuk perlengkapan menari. Harganya dulu sekitar Rp 500 ribu,” ucap alumnus SD Kristen Donomulyo itu.
Selain menjadi pelatih kesenian Jawa, Sujianto sejak 1965 telah banyak diundang untuk menampilkan kesenian Jawa seperti ludruk dan jaran kepang di acara seperti pernikahan atau sunatan. ”Saya tidak pernah menghitung berapa kali tampil. Tapi kayaknya seratus kali lebih sudah ada karena sudah sejak kelas 5 SD saya berkesenian,” ungkapnya.
Meskipun sudah memiliki jam terbang tinggi, Sujianto tidak pernah memasang tarif ketika tampil. Bahkan, tidak jarang dia hanya diberi makan dan tidak dibayar ketika tampil. ”Sering tidak dibayar. Tapi tidak masalah karena prinsip saya tidak pernah mengharapkan bayaran ketika tampil. Kalau ada diambil. Kalau tidak ada, bukan masalah,” ujarnya. 
Bagi Sujianto, mengajari masyarakat dan anak-anak merupakan kewajiban. Apalagi, sudah tidak banyak yang menekuni kesenian tradisional Jawa. Bahkan, dia miris karena justru banyak warga asing seperti Jepang dan Belanda yang menekuni kesenian Jawa. ”Yang saya tahu, banyak warga asing belajar kesenian Jawa. Sedangkan kita sendiri yang orang Jawa jarang menekuninya,” ucap dia.
Meskipun sudah tua, Sujianto tidak tahu sampai kapan tetap menggeluti kesenian Jawa. Namun, dia berharap dirinya masih diberi kesehatan agar bisa mengajarkan kesenian Jawa, terutama bagi anak-anak sebagai regenerasi ketika dirinya sudah tidak bisa melatih kesenian Jawa. ”Tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, saya ingin kesenian Jawa tetap dilestarikan karena ini warisan nenek moyang,” tandas dia.  (yn)
  

Belajar dari Tulisan-Tulisan Dahlan Iskan


Juara satu kali mungkin masih dibilang sebuah kebetulan. Namun, ketika empat kali berturut-turut menjadi juara, tentunya bukan sebuah kebetulan. Itulah prestasi SMAK Kolese Santo Yusuf dalam journalist competition DBL East Java Series-South Region.

Irham Thoriq

Senin (25/4) di teras sekolah SMAK Kolese Santo Yusuf (Kosayu), wajah ceria masih menyelimuti Bella Widyanto dan Leonardo Rio. Maklum, berkat keduanya, Kosayu dianugerahi juara umum kompetisi jurnalis (journalist competition) DBL (Deteksi Basketball League)  2012 yang diumumkan Sabtu (23/6)  lalu di MPM Kota Malang.
Predikat yang dipersembahkan keduanya itu membawa Kosayu empat tahun berturut-turut juara umum sejak 2009. Juara umum 2012 semakin lengkap karena tim putra Kosayu merebut juara DBL East Java Series-South Region.
Awalnya, Bella dan Rio tidak berniat ikut kompetisi jurnalis DBL. Keduanya ikut setelah diajak temannya yang memperkuat tim basket Kosayu. ”Mereka ngajak kami. Alasan mereka, masak basket ikut tapi lomba jurnalisnya tidak ikut,” kata Rio.
Rio terpilih sebagai best photographer melalui foto berjudul Adu Kekuatan. Dalam foto itu, Rio memotret Choki Sitohang sebagai pembawa acara tersebut yang sedang menarik tali melawan tiga orang lainnya. Foto tersebut Rio dapatkan di final East Java Series di DBL Arena Surabaya.
Rio punya cerita tersendiri ketika hendak mengambil gambar tersebut. Dia berangkat ke Surabaya dengan mengendarai sepeda motor. Apes, motor Rio tiba-tiba mogok ketika baru masuk Surabaya. Setelah dicek, ternyata bensinnya habis. ”Ketika itu, saya bawa uang pas. Untung teman mau meminjamkan uangnya,” ungkap siswa kelahiran 17 Desember 1994 itu.
Keduanya bersemangat mengikuti kompetisi jurnalis tersebut salah satu motivasinya karena ingin mempertahankan predikat Kosayu yang tiga tahun berturut-turut juara umum. ”Menjadi juara bertahan sama sekali bukan beban. Justru menjadi motivasi untuk menunjukkan kepada kakak kelas bahwa kami bisa juara seperti mereka,” imbuh Bella.
Untuk meraih hasil maksimal, mereka tidak malu belajar kepada kakak kelas mereka yang juara tahun lalu. Rio belajar kepada Imanuel Leonardo Pandelaki yang tak lain best photographer tahun lalu. ”Saya sering lihat-lihat foto dia yang juara tahun lalu,” imbuhnya.
Bella yang menjadi writer mengumpulkan dua tulisan. Masing-masing berjudul Fantastic Game dan Percaya Keber”untung”an. Tulisan pertama menceritakan kronologi DBL dari awal sampai akhir. Intinya, setiap pertandingan kerap berakhir seru karena semua tim kejar-mengejar poin.
Sedangkan tulisan kedua merupakan profil pemain SMA Kosayu bernama Untung Prasetyo. Untung dipilih karena pemain yang berposisi forward tersebut merupakan pencetak angka terakhir yang membuat Kosayu menang dengan skor tipis 60-59 ketika menundukkan SMAN 1 Blitar di final south region. Ketika diwawancarai, Untung mengatakan kemenangan tersebut karena dia percaya keberuntungan. Jadilah Bella memilih judul Percaya Keber”untung”an. ”Judul itu kami nilai menarik karena Untung juga penyelamat tim kami,” ucap cewek kelahiran Malang 19 Februari 1995 tersebut.   
Bella belajar dari koran untuk menulis berita maupun memperbaiki tulisannya. Salah satunya sering membaca berita DBL di Jawa Pos. ”Dulunya saya jarang baca koran. Karena ikut lomba ini, saya sering baca, terutama yang berkaitan dengan DBL,” tuturnya.
Selain membaca koran, Bella juga rajin membaca buku yang ditulis Dahlan Iskan. Mantan CEO Jawa Pos yang kini menjadi menteri BUMN itu merupakan idola Bella dalam hal penulisan. Bagi Bella, tulisan Dahlan Iskan mudah dipahami oleh semua orang. ”Kebetulan ayah saya suka buku dia (Dahlan Iskan). Saya coba-coba baca yang judulnya Ganti Hati. Ternyata bagus. Tulisannya mengalir. Saya banyak belajar dari buku itu,” ungkapnya.
Bella mengaku sangat senang mengikuti kompetisi jurnalis DBL karena mengajarinya menjadi wartawan profesional. ”Pengalaman luar biasa. Baru saya menyadari bahwa kerja wartawan itu mengasyikkan. Apalagi karya kami membuat Kosayu juara,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Pembina jurnalistik Kosayu Lidia Dela Sulistyowati mengatakan, banyak hal yang dilakukan sekolahnya untuk menciptakan siswa berprestasi dalam kompetisi jurnalis. Bahkan, dirinya rela berkali-kali melayani konsultasi Rio dan Bella. ”Mereka mempunyai kemauan tinggi untuk jadi juara. Mereka banyak konsultasi dengan saya, apalagi sebelum pengumpulan tulisan,” ucap guru bahasa Indonesia itu.
Menurut Lidia, banyak program yang bisa meningkatkan kemampuan jurnalistik siswa Kosayu. Setiap tahun sekolah tersebut selalu mengadakan workshop jurnalistik yang kebanyakan diisi wartawan Radar Malang.  Para siswa tidak hanya belajar teknik menulis, tapi juga motivasi untuk selalu menulis. ”Pelatihan itu sangat penting untuk menciptakan iklim menulis,” ucap perempuan kelahiran Jogjakarta 27 Maret 1978 tersebut.
Banyak siswa Kosayu yang tertarik mendalami jurnalistik, baik menulis maupun fotografi. Ditambah program pelatihan yang intens, tak heran jika siswa Kosayu empat kali beruntun juara journalist competition DBL East Java Series-South Region.  ”Predikat juara itu selalu memotivasi kami agar berusaha mempertahankannya,” ujar Lidia.
Untuk menambah iklim menulis, Kosayu juga rajin mengikuti lomba majalah dinding (mading) yang diadakan Deteksi Jawa Pos setiap tahun. Sekitar 20 siswa terlibat langsung dalam lomba mading setiap tahun. Bahkan, kosayu juga menjadi juara satu mading pada 2009. ”Mading Deteksi itu cocok sekali karena bukan hanya tulisan yang dimuat, tetapi juga bagaimana kreativitas anak muda diasah,” tutur alumnus Universitas Sanata Dharma Jogjakarta itu. (yn)

Nyaris Tak Ikut DBL, Pemain Lobi Guru


Minim persiapan membuat SMA Kosayu pada awalnya tidak bermimpi untuk bisa tampil menjadi juara Development Basketball League (DBL) East Java Series South Region. Namun, berbekal pengalaman tahun lalu, tim ini berhasil meraih sukses.

Irham Thoriq

Kemarin (6/6) pagi sekitar pukul 10.00 tampak di depan gedung serba guna SMA Kolose Santo Yusuf, wajah 15 pemain dan pelatih Prasetya Citra Sukoco masih sumringah. Mereka membentuk lingkaran, tampak sertifikat bertulisan CHAMPION berada di tengah-tengah mereka.
Sertifikat tersebut adalah hasil juara DBL East Java Series South Region yang baru mereka raih setelah menang dramatis di final melawan SMAN 1 Blitar dengan skor tipis 60-59 pada Selasa (5/6) malam di GOR Pertamina Universitas Brawijaya (UB).
Serifikat berukuran sekitar 50 x 30 centimeter yang berlapis kaca tebal tersebut mereka pandangi terus. Bagaimana tidak, gelar juara tersebut sebelumnya tidak pernah terlintas di benak mereka.
Pelatih Prasetya Citra Sukoco membuka pembicaraan. Pria yang akrab dipanggil Citra ini menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak menyangka bahwa timnya bisa menjadi juara dalam kejuaraan tersebut. Hal ini karena sekolah lain lebih siap segalanya dan tim SMA Kosayu memang minim persiapan.
Hanya satu bulan SMA Kosayu melakukan persiapan. Bahkan sebelumnya SMA Kosayu berniat tidak ikut dalam kejuaraan bergengsi tersebut karena mereka harus fokus pada ujian akhir sekolah (UAS) yang digelar pada 14 April lalu atau dua hari setelah pembukaan DBL.
Mengetahui bahwa sekolah memutuskan untuk tidak mengikuti DBL, para pemain pun melakukan lobi guru. Mereka beralasan ikut kegiatan ekstrakurikuler basket hanya ingin ikut DBL. ”Pemain waktu itu lobi pihak sekolah, akhirnya kami diperbolehkan ikut. Pada w`ktu itu kami daftar H-1 penutupan,” ungkap pria kelahiran 24 Januari 1984 itu. 
Baru setelah daftar, mereka melakukan latihan yang lumayan intens. Namun, karena SMA Kosayu merupakan sekolah favorit yang pemainnya juga disibukan tugas, Citra hanya menjadwalkan latihan dua kali dalam seminggu. ”Saya tidak bisa terlalu intens latihan, karena mereka sibuk UAS,” imbuhnya.
Namun, meski hanya mempunyai persiapan sedikit, Citra mempunyai cara untuk membakar semangat anak asuhnya. Cara tersebut adalah dengan melihat video rekaman pertandingan final DBL tahun sebelumnya dari berbagai daerah. Video tersebut mereka download dari Youtube.
Video yang banyak menggambarkan atmosfer final, mulai dari yang nangis karena timnya kalah, ada juga yang histeris. ”Kami pacu semangat mereka hanya dengan video,” imbuh pria alumni Fakultas Olahraga Universitas Negeri Malang tersebut.
Selain itu, kapten tim Ricky Pribadi menjelaskan bahwa laga final lalu merupakan laga terberat bagi mereka selama perhelatan DBL. ”Laga itu memang sangat berkesan bagi kami, karena yang awalnya kami kalah. Namun di menit-menit akhir kami bisa menang,” Ucapnya.
Berkat juara tersebut, SMA Kosayu berhak mewakili East Java Series-South Region dalam laga final di Surabaya melawan perwakilan   East Java Series-North Region yang akan digelar Sabtu (9/6) mendatang di DBL Arena Surabaya.”Kami yakin bisa menang dan menjadi juara lagi,” imbuh Ricky.
Bahkan untuk mengetahui kualitas lawannya, mereka menonton pertandingan final East Java Series-North Region yang mempertemukan SMA Freteran Surabaya dan SMA Negeri 9 Surabaya yang digelar tadi malam di DBL Arena Surabaya. ”Kami akan nonton dan merekam pertandingan mereka agar mengetahui kelemahan lawan kami,” tambahnya.
Selain itu, mereka juga mempunyai jargon penyemangat bagi dirinya masing-masing untuk meraih prestasi di sekolah dan di lapangan. Jargon tersebut adalah Menang, Surabaya, Naik Kelas. Setelah juara, mereka mengubah Jargonnya, Surabaya, Menang, Naik Kelas. ”Jargon ini untuk penyemangat anak-anak aja,” terang Citra. 
Berkat juara tersebut, pemain SMA Kosayu mempunyai spirit untuk meneruskan cita-cita mereka yang kebanyakan berkeinginan menjadi pemain basket profesional. Salah satunya adalah pemain berposisi forward Alfrdo Hidayat.”Saya ingin menjadi pemain basket Bimasakti, karena saya juga asli Malang,” ungkap pemain yang mengaku fans Yanuar Dwi Priasmoro ini.
Pada tahun ini, SMA Kosayu memang cukup berpresatasi. Pada April lalu, tim tersebut juga menjadi juara I pada kejuaraan daerah (kejurda) basket yang diadakan Perbasi Kota Malang. Sebagaimana diketahui, SMA Kosayu lolos ke final setelah menjadi juara grup. SMA Kosayu satu grup dengan SMAN 6 Kota Malang, SMAN 1 Kediri, SMKN 8 Kota Malang. Di babak delapan besar mereka mengalahkan SMAN 1 Jember, sedangkan babak semifinal mereka mengalahkan SMAN 2 Jember.  (*/ziz)

Obati Pasien Kenalkan Tuhan

Mengajak orang normal untuk rajin beribadah itu tak mudah. Lebih sulit lagi mengajak orang yang secara mental sedang sakit seperti pasien rumah sakit jiwa (RSJ) Lawang. Namun M. Nur Dahlan telah berhasil menyadarkan banyak pasien hingga menemukan kembali Tuhan yang lama mereka lupakan. *** Pasien RSJ bukan untuk dikucilkan, namun untuk disembuhkan. Karena mereka juga punya hak untuk sembuh dan punya hak untuk mengenal Tuhan. Berangkat dari prinsip itu, Nur Dahlan tergugah hatinya untuk mengabdi sebagai ”dokter” rohani para pasien RSJ Lawang. Sudah 21 tahun ia menjadi guru agama para penderita gangguan jiwa itu. ”Sejak 1991 saya harus fokus membantu agar mereka cepat sembuh dan selalu ingat Tuhan,” ungkap Dahlan kemarin. Dahlan begitu menikmati profesi itu. Meski ia sempat dibikin pusing karena sulit berkomunikasi dengan pasien RSJ, namun dengan kelembutan hati, mereka bisa menerimanya. Dahlan semakin puas jika pasien yang ia bimbing mulai menunjukkan tanda-tanda positif, misal sudah mau datang ke musala di kompleks RSJ. ”Saya lihat di musala mereka banyak yang sudah salat, itu luar biasa. Karena dalam Islam orang yang gangguan jiwa tidak wajib salat tapi mereka sudah sadar,” ucap alumnus PP Sidogiri Pasuruan ini. Dahlan mengungkapkan, untuk melakukan dakwah, dirinya setiap hari harus datang ke kamar pasien. Kali pertama yang dibiacarakan adalah masalah yang sedang dihadapi. Setelah dirinya dengan pasien mulai klik atau nyambung, baru materi agama ia sampaikan. Tak semua bisa menerima, namun dirinya sabar dan yakin suatu saat semua bisa menerimanya. Selain melakukan hubungan personel, dirinya juga menggelar pertemuan rutin setiap kamis. Sedikitnya 40 pasien ia kumpulkan di musala untuk menerima wejangannya. Selama berdakwah, Nur banyak melakukan penyadaran berupa mengingatkan akan kuasa Tuhan. Lupa akan kuasa Tuhan inilah, salah satu penyebab mereka berada di RSJ. Mereka secara mental mudah putus asa ketika terkena badai problem. Jiwanya mudah sekali guncang. ”Selalu saya ingatkan kalau semua itu sudah diatur Tuhan, kegagalan mereka dalam rumah tangga, ekonomi, dan yang lain seharusnya mereka kembalikan kepada Tuhan. Hal inilah yang saya selalu sadarkan kepada mereka,” terang suami dari Sutiani ini. Karena dakwahnya yang cukup menyentuh itu, Dahlan banyak menemukan pasien yang tiba-tiba menangis. Mereka merasa kalau selama ini banyak jauh dari Tuhan. ”Saya ajak dialog mereka, karena saya tidak ingin menggurui, oleh karena itu banyak dari mereka yang menangis karena telah banyak melupakan Tuhan,” imbuhnya. Misi utama Nur Dahlan menjadi juru dakwah di RSJ ini selain agar pasien sembuh secara mental, juga agar mereka kembali rajin beribadah. Karena itu, Nur Dahlan sangat senang ketika suatu saat ada alumnus RSJ Lawang yang sudah sembuh lalu mengirim surat kepadanya. Dalam surat itu ia menyebutkan jika dirinya kini sudah menjadi orang normal lagi dan merasa semakin dekat dengan Tuhan. ”Kata dia hidupnya lebih tenang jika ibadah terus,” terang pria pensiunan PNS ini. (riq/abm)

Tidak Bawa Handphone, Pernah Dirampok di Australia


Sudah sejak Mei 2009, Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori meninggalkan Italia untuk kelling puluhan negara di dunia. Pasutri tersebut kemarin singgah di Malang sebelum menuju kota-kota lain di Indonesia. Bagaimana kisahnya? 

Irham Thoriq

Sepeda motor berpelat nomor Italia AF 8369 sedang parkir di halaman rumah Gembong Priyosetyadji, Jalan Bondowoso Dalam No 15 Kota Malang. Tampak kalau sepeda motor ber-cc 600 itu dipergunakan untuk perjalanan jauh. Soalnya, di depan kanan sepeda motor itu, ada jeriken lima liter yang berisi air. Di kiri ada jeriken yang ukurannya lebih kecil berisi oli sebagai persiapan kehabisan oli di tengah jalan.
Pemandangan lain bahwa sepeda motor ini untuk tunggangan perjalanan jauh adalah banyaknya perlengkapan yang dimuat di atasnya. Ada tenda, matras, baju, laptop, dan perlengkapan kecil lainnya. Di bagian belakang sepeda motor tersebut, terdapat stiker 23 negara. Itulah 23 negara yang sudah dikunjungi pasangan suami istri (pasutri) Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori.
Kemarin pasutri asal Italia tersebut singgah di Malang. Di kota ini, keduanya tinggal di rumah Gembong Priyosetyadji di Jalan Bondowoso Dalam 15. Pasutri itu mengenal Gembong dalam jambore all bikers se-Indonesia di Jember 19 Mei lalu. Gembong sendiri adalah ketua Asosiasi Honda Phantom Indonesia (AHPI) Kota Malang.   
Mauriz dan Shizo –begitulah panggilan pasutri itu– sudah tiga tahun atau sejak 18 Mei 2009 melakukan perjalanan ”gila” keliling 23 negara dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan mereka diawali dari Italia.
Meski tampak lelah karena habis sakit, Mauriz bersemangat menceritakan perjalanannya keliling 23 negara. Ke-23 negara yang telah dilewati  tersebut adalah Italia, Prancis, Spanyol, Swiss, Austria, Bosnia, Portugal, Kosovo, Serbia, Makedonia, Montenegro, Bulgaria, Belanda, Turki, Armenia, Georgia, Iran, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Australia, Timur Leste, dan Indonesia.
Dan, Indonesia bukan negara terakhir dalam perjalanan keduanya. Mereka masih akan melanjutkan perjalanan ke beberapa negara Asia lainnya serta Eropa sekalian pulang ke Italia. Berapa negara lagi yang akan disinggahi, Mauriz dan Shizo belum punya target. ”Kalau ingin singgah, ya kami singgah,” ucap Mauriz. 
Awalnya, pasutri tersebut memang tidak punya cita-cita untuk berkeliling dunia dengan sepeda motor. Mauriz yang memang hobi backpacker hanya iseng mengajak istrinya untuk melakukan perjalanan ”gila” tersebut. Secara mengejutkan, Shizo mengiyakan ajakan Mauriz tersebut. ”Saya ajak istri saya. Dia mau. Terus kami berangkat,” ujanya dalam bahasa Inggris.
Mauriz dengan Shizo sebenarnya beda negara. Mauriz asal Italia dan Shizo dari Jepang. Pada 2006 lalu, keduanya bertemu dalam perjalanan backpacker. Saat itu Mauriz menempuh jalan kaki seribu kilometer dari Prancis ke Spanyol. Di tengah jalan, keduanya berkenalan. Tidak lama berselang, duda dan janda itu menikah. ”Karena saya suka jalan-jalan, bertemu istri pun di jalanan,” ungkap pria kelahiran 11 Juni 1962 tersebut, lantas tertawa.
Menurut Mauriz, dirinya leluasa melakukan perjalanan jauh karena tidak ada orang lagi di rumah. Anak perempuan satu-satunya yang bernama Maika dari istri pertamanya sudah bekerja di Mesir.
Bahkan, Mauriz memberikan semua perabotan rumahnya kepada panti asuhan. Dengan berderma, dia berharap perjalanannya selamat. ”Kami kasihkan semua perabotan rumah kecuali Vespa karena saya suka sekali Vespa itu,” tutur dia.
Keduanya berangkat dengan bekal USD 20 ribu. Namun, bekal tersebut sudah ludes ketika perjalanan baru sampai Swiss atau negara ke-12 yang disinggahi. ”Selama dua puluh hari kami kerja di Turki. Kerja apa saja asalkan dapat uang,” kata Mauriz.
Bukan hanya di Turki. Ketika sampai di Iran dan Australia pun, mereka harus bekerja untuk bekal uang telah habis. Di dua negara tersebut, Mauriz berkerja sebagai mekanik, sopir, dan kerja serabutan lainnya. ”Di Italia, saya dulu punya bengkel,” ujarnya.
Sedangkan Shizo juga bekerja sebagai pembuat suvenir di dua negara tersebut. ”Saya ikut kerja karena uang kami benar-benar habis,” ucap perempuan kelahiran Jepang 20 April 1967 itu.
Menariknya, meskipun mengelilingi berbagai negara, keduanya tidak membawa handphone dan kompas sebagai penunjuk arah. ”Modal kami hanya mulut untuk bertanya ke orang lain. Namun, kalau mereka tidak mengerti bahasa Inggris, kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh,” imbuh Shizo.
Hal  itu misalnya dialami ketika hendak mdlakukan perjalanan ke Gunung Bromo. Ketika bertanya kepada salah seorang warga, orang itu tak bisa bahasa Inggris tapi paham yang dimaksud Mauriz. Makanya, warga tersebut langsung memberikan peta arah jalan ke Bromo. ”Ini petanya ketika saya dibuatkan salah seorang penduduk,” ujarnya sambil menunjukkan peta itu. 
Dalam perjalanan, keduanya juga membawa laptop dan dua kamera. Namun, satu kamera hilang di Australia karena dirampok orang. ”Kamera yang dirampok itu yang besar,” ungkap Mauriz.
Sedangkan laptop diperlukan keduanya untuk melakukan komunikasi dengan keluarga melalui media skype dan e-mail. Selain itu, mereka selalu menuliskan pengalaman dan mengunggah foto-foto dan video di website pribadinya, yakni www.andimoper.jimdo.com dan www.andimoper.blogspot.com.
Tulisan-tulisan dan foto itu sempat dijadikan buku oleh teman Mauriz di Italia. Yakni kisah perjalanan mulai Italia sampai Jepang. Buku berbahasa Italia dengan judul Due Rote Due Matti Una Tenda. Artinya Dua Roda, Dua Orang Gila, dan Satu Tenda. Jadi, tulisan-tulisan tentang perjalanan dari Italia ke Jepang dikirim via e-mail oleh Mauriz kepada temannya di Italia. Temannya itu yang kemudian menerbitkan dan menjual buku tersebut. ”Ternyata laris juga,” katanya bangga. ”Untuk perjalanan dari Jepang sampai Indonesia belum. Tunggu saja,” sambung pria murah senyum itu.
Buku tersebut banyak menggambarkan kisah mereka yang serimg tidur di tenda dalam perjalanan. Sangat jarang mereka tidur di hotel. ”Kalau tidak enak badan, baru tidur di hotel,” ucap Mauriz. 
Dari perjalanan menjelajahi negara-negara itu, keduanya banyak mempunyai kesan dan pelajaran hidup. Mauriz menceritakan, ketika di Korea Selatan, dia mendirikan tenda di dekat rumah warga yang sangat miskin dan hampir roboh. Namun, orang tersebut malah memberi mereka makan. ”Kami terharu karena orang miskin itu sangat pemurah,” tutur Shizo. 
Namun, tidak sepanjang perjalanan mereka menggunakan sepeda motor. Ketika melintasi lautan untuk menuju negara lain, mereka naik pesawat. Sedangkan sepeda motor dipaketkan melalui kargo.
Jumat lusa (8/6), mereka akan meninggalkan Kota Malang. keduanya bakal mengikuti Gembong dalam pertemuan Asosiasi Honda Phantom Indonesia di Kota Blitar. Setelah dari Blitar, keduanya melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. (yn)